Old fan

Suara itu parau, mengeluh, “engeeeng…..ngeeng…ngengeng…….” berulang-ulang hingga beberapa kali. Namun suara itu membuat mulut ku tersenyum paksa, miris, menahan tawa yang hampir meledak.

Dada ku sesak seperti berada di kursi belakang saat naik wahana Kora-kora. Namun lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum miris.

Suara keluhan yang muncul dari benda yang cantik nan putih berputar. Membuat hembusan angin sepoy yang meredakan sedikit rasa terbakar di tubuh.

Memang sudah beberapa hari ini sang surya seperti menapakkan ekor sinarnya sangat pekat hingga menghasilkan kontras gelap pekat disetiap benda apapun yang menghalangi keanggungannya kebumi.

Meski kau pergi dengan seragam bersih, wangi nan nyaman. Niscaya kau rela menanggalkannya di pinggir-pinggir kursi hingga secarik kolor dan kaos kutang yang tak sampai rela kau membukanya karena ini di Timur.

Suara menggelikan itu berangsur menghilang berdampingan dengan hembusan angin sepoy nan menyejukkan raga dan jiwa.

“Oh jiwa yang hampa, ngantuk dan juga BT, terbalangkah kau dan pergi ngibrit sambit menenteng sendal, ngacir dan lenyap masuk ke jurang. Karena ku tau, teriknya sang surya yang membakar dan membumi hanguskan dahaga ini percaya. Setelah kau tertidur dalam taat mu pada Sang Maha kuasa, Aku akan merindukan Mu dibelahan bumi yang lain hingga Kau hadir dengan sinar yang lebih lembut menyapa ku di esok pagi”.

Kau yang tua nun putih berputar-putar. Bahagianya dirimu yang bisa memberikan manfaat dari nikmat-Nya yang yang sering terlupakan. Namun keluh mu tak di hiraukannya. Karena mimpi dan gelisah nya yang bercinta.

Iklan