Ilmu Semiotika

Berdasarkan hasil penelitian membuat lembaran-lembaran kertas yang telah diuji menggunakan SII (Standar Industri Indonesia), langkah selanjutnya menganalisa masing-masing lembaran dengan pendekatan semiotika. Pendekatan semiotika dipilih karena semiotika merupakan salah satu pendekatan yang sedang diminati dewasa ini. Semiotika adalah ilmu tanda dan istilah ini berasal dari kata Yunani semion yang berarti tanda. (Panuti Sudjiman & Aart van Zoest, 1992) Tanda bisa terdapat dimana-mana, misalnya : lampu lalu lintas, bendera, karya sastra, bangunan dan lain-lain. Hal ini disebabkan manusia adalah Homo Semioticus, yaitu manusia mencari arti pada barang-barang dan gejala-gejala yang mengelilinginya (Aart van Zoest, 1978 dan Lavers, t.th.)

Semiotika moderen mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure. Pierce mengusulkan kata semiotika untuk bidang penelaahan ini, sedangkan Saussure memakai kata semiologi. Sebenarnya kata semiotika tersebut telah digunakan oleh para ahli filsafat Jerman bernama Lambert pada abad XVIII.

Menurut Pierce, makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. Ia menyebutnya sebagai representamen. Apa yang dikemukakan oleh tanda, apa yang diacunya, apa yang ditunjuknya, disebut oleh Pierce dalam bahasa Inggris object. Dalam bahasa Indonesia disebut “acuan”. Suatu tanda mengacu pada suatu acuan dan representasi seperti itu adalah fungsinya yang utama. Agar tanda dapat berfungsi harus menggunakan sesuatu yang disebut ground. Sering ground suatu tanda berupa kode, tetapi tidak selalu begitu. Kode adalah suatu sistem peraturan yang bersifat transindividual. Banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual.

Di samping itu tanda diinterprestasikan. Hal ini menunjukkan setelah dihubungkan dengan acuan, dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. Pengertian interpretant di sini jangan dikacaukan dengan pengertian interpretateur, yang menunjukkan penerima tanda. Jadi, tanda selalu terdapat dalam hubungan trio: dengan ground-nya, dengan acuannya, dan dengan interpretant-nya. (lihat Sudjiman, 1991)

Aart van Zoest (1978) dengan mengutip pendapat Pierce yang membagi keberadaan menjadi tiga kategori : Firstness, Secondness dan Thirdness, membagi tanda berdasarkan ground dari tanda-tanda tersebut sebagai berikut : (1) Qualisign, (2) Sinsign, dan (3) Legisigns. Awalan kata Quali- berasal dari kata “quality”, Sin- dari “singular”, dan Legi- dari “lex” (wet/hukum).

Qualisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan sifatnya. Misalnya sifat warna merah adalah qualisign, karena dapat dipakai tanda untuk menunjuk-kan cinta, bahaya, atau larangan.

Sinsign (singular sign) adalah tanda-tanda yang menjadi tanda berdasarkan bentuk atau rupanya di dalam kenyataan. Semua ucapan yang bersifat individual bisa merupakan sinsign. Misalnya suatu jeritan, dapat berarti heran, senang, atau kesakitan. Seseorang dapat dikenali dari caranya berjalan, caranya tertawa, nada suara dan caranya berdehem. Kesemuanya itu adalah sinsign. Suatu metafora walaupun hanya sekali dipakai dapat menjadi sinsign. Setiap sinsign mengandung sifat sehingga juga mengandung qualisign. Sinsign dapat berupa tanda tanpa berdasarkan kode.

Legisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan suatu peraturan yang berlaku umum, suatu konvensi, suatu kode. Semua tanda-tanda bahasa adalah legisign, sebab bahasa adalah kode, setiap legisign mengandung di dalamnya suatu sinsign, suatu second yang menghubungkan dengan third, yakni suatu peraturan yang berlaku umum, maka legisign sendiri adalah suatu thirdness.

Berdasarkan hubungan antara tanda dan acuannya (denotasi), Pierce membedakannya menjadi 3 (tiga) jenis tanda, yaitu : (1) ikon, (2) indeks, dan (3) simbol. Hal ini dinyatakan sebagai berikut : Pada prinsipnya ada tiga hubungan yang mungkin ada. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan, tanda itu disebut ikon. (2) Hubungan ini dapat timbul karena ada kedekatan eksistensi; tanda itu disebut indeks. (3) Akhirnya hubungan ini dapat pula berbentuk secara konvensional; tanda itu adalah simbol.

Tanda ikon merupakan tanda yang menyerupai benda yang diwakilinya, atau suatu tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya. Misalnya kesamaan sebuah peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya, foto dan lain-lain. Benda-benda tersebut mendapatkan sifat tanda dengan adanya relasi persamaan di antara tanda dan denotasinya, maka ikon seperti qualisign merupakan suatu firstness.

Indeks adalah tanda yang sifat tandanya tergantung dari keberadaannya suatu denotasi, sehingga dalam terminologi Pierce merupakan suatu Secondness. Indeks dengan demikian adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan atau kedekatan dengan apa yang diwakilinya. Misalnya tanda asap dengan api, tiang penunjuk jalan, tanda penunjuk angin dan sebagainya.

Simbol adalah suatu tanda, di mana hubungan tanda dan denotasinya ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau ditentukan oleh suatu kesepakatan bersama (konvensi). Misalnya tanda-tanda kebahasaan adalah simbol.

Ditinjau dari hubungan tanda dengan interpretannya, tanda dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu : (1) Rheme bilamana lambang tersebut interpretannya adalah sebuah first dan makna tanda tersebut masih dapat dikembangkan, (2) Decisign (dicentsign) bilamana antara lambang itu dan intepretannya terdapat hubungan yang benar ada (merupakan secondness), (3) Argument bilamana suatu tanda dan interpretannya mempunyai sifat yang berlaku umum (merupakan thirdness).

Menurut pendapat Aart van Zoest, adanya tanda ditentukan oleh 3 (tiga) elemen, yaitu : (1) tanda yang dapat dilihat atau tanda itu sendiri, (2) sesuatu yang ditunjukkan atau diwakili oleh tanda, (3) tanda lain dalam pikiran penerima tanda. Di antara tanda dan yang diwakilinya ada sesuatu hubungan yang menunjukkan representatif yang akan mengarahkan pikiran kepada suatu interpretasi.

Hal ini menunjukkan representasi dan interpretasi merupakan karakteristik tanda.

Tanda mempunyai arti langsung dari suatu tanda yang telah diketahui bersama atau yang menjadi pengertian bersama yang disebut denotasi. Sedangkan pengertian tak langsung atau arti ke 2 dari denotasi tadi disebut konotasi. Tanda yang diberi arti sepihak oleh penerima disebut symptom, dengan demikian artinya konotatif. Pengertian symptom sendiri adalah jika suatu tanda tidak dimaksudkan tanda oleh pengirim tanda.

Selanjutnya menurut Aart van Zoest, studi semiotika dibagi menjadi 3 (tiga) daerah kerja, yaitu : (1) Semiotik Sintaksis, studi tanda yang dipusatkan pada penggolongannya, dan hubungan dengan tanda-tanda yang lain caranya berkerja sama dalam menjalankan fungsinya. Namun semiotik sintaksis tidak hanya dibatasi mempelajari hubungan antara tanda di dalam sistem tanda yang sama, melainkan juga mempelajari tanda dalam sistem lain yang menunjukkan kerjasama. Misalnya dalam film, antara gambar dan kata-kata, pada dasarnya berasal dari sistem tanda yang berbeda, tetapi bekerja sama. (2) Semiotik semantik, penyelidikannya diarahkan untuk mempelajari hubungan di antara tanda dan acuannya (denotasi), serta interprestasi yang dihasilkan. (3) Semiotik Pragmatik, penyelidikannya diarahkan untuk mempelajari hubungan di antara tanda dan pemakai tanda Dengan adanya tiga tataran tersebut, maka akan semakin lengkap usaha untuk mempelajari ‘gramatika’ sistem semiotika tertentu. Perbedaan yang paling penting dalam taraf pragmatik adalah di antara symptom-symptom dan signal-signal. yang dimaksud dengan symptom adalah bila suatu tanda tidak dimaksudkan oleh pengirim tanda sebagai tanda. Sedangkan signal adalah suatu tanda yang memang dimaksudkan oleh pengirim tanda sebagai tanda. Dalam signal ada aspek repretentatifnya, ada denotasi tertentu, berbeda dengan symptom yang tidak memiliki denotasi tertentu yang sengaja diberikan. Pada situasi komunikasi, perhatian pertama ditujukan kepada signal, namun dalam situasi demikian bisa juga muncul symptom-symptom yang tidak disengaja. Menurut Aart van Zoest, justru terkadang symptom memiliki kekuatan kebenaran yang lebih jika dibanding dengan signal, karena signal dapat berbohong, sedangkan symptom tidak.

Sehubungan dengan uraian di atas, semiotika sebagai pendekatan meninjau karya adalah dengan melakukan otokritik terhadap karya-karya yang dibuat. Unsur kritik dalam meninjau karya adalah perian atau deskripsi, yaitu menyebutkan, mencatat dan melaporkan hal yang tersaji secara langsung yang tampak melalui penglihatan mengenai wujud. Unsur kedua adalah orakan atau analisis, yaitu menyatakan bagaimana suatu hal yang disebutkan dalam perian tergambar atau tersusun, dengan menyatakan sifat, kualitas dan elemen-elemen seni rupa (garis, warna, bidang, tekstur) bertalian dengan yang telah diuraikan. Unsur ke tiga adalah tafsir atau interprestasi, yaitu menyatakan atau mengutarakan makna dari hasil seni. Unsur yang ke empat atau terakhir adalah menyatakan nilai atau mutu hasil seni. (lihat Feldman, 1967 dan Garret, 1978)

Pendekatan semiotika merupakan salah satu cara untuk mengetahui dan mengontrol karya-karya yang dibuat karena Karya seni merupakan suatu tanda yang diciptakan seniman yang dapat dibaca oleh penonton atau penerima tanda.

Komposisi merupakan salah satu aspek pokok pertama yang dilihat penonton dalam karya seni, sebab dapat mengkomunikasikan visi seniman dalam arti karya seninya kepada pengamat. Sebagai sebuah tanda, komposisi yang merupakan penyusunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur seperti tekstur, garis, bidang dan sosok gumpal, yang disusun dalam satu kesatuan, akan memberikan kesan yang berbeda-beda, misalnya stabil atau dinamis. Garis merupakan tanda, secara qualisign (istilah dalam ilmu semiotik) garis yang mendatar memperlihatkan ketenangan, kedamaian, bahkan kematian. Garis vertikal secara qualisign menggambarkan kekokohan, kestabilan, kemegahan dan kekuatan. Garis diagonal menandakan tidak dalam keadaan seimbang, sehingga menunjukkan gerakan, hidup dan dinamis. Garis yang bengkok atau melengkung mengesankan sesuatu yang indah, lemas, lincah dan meliuk. Garis yang dibuat zig-zag secara qualisign menyiratkan semangat dan gairah. Garis horisontal juga menunjukkan tanda ikonis, karena mengingatkan benda-benda yang di alam seperti cakrawala, pohon yang tumbang dan lain-lain. Garis vertikal secara ikonis dapat diasosiasikan pokok pohon, dinding gedung dan batu karang. Garis diagonal sebagai tanda ikonis bertautan dalam ingatan pada pucuk-pucuk pohon yang di tiup angin, orang berlari dan kuda yang sedang melonjak. Sedangkan garis bengkok atau melengung, berkaitan dengan gerak ombak yang mengalun menuju pantai.

Seperti yang telah disebut di muka, warna merupakan qualisign, sifat merah dapat dipakai sebagai tanda bahaya dan larangan. Selain itu, sifat merah yang panas dapat dipakai untuk menunjukkan gairah, semangat dan cinta. Biru secara qualisign memperlihatkan kedalaman dan ketenangan. Kuning menerang-kan kehangatan dan keramahan. Putih mengesankan sesuatu yang terang, ringan dan netal. Hitam secara qualisign menandakan suatu kedalaman, kekokohan dan keabadian.

Sebagai tanda ikon, warna biru mengingatkan pada langit, warna putih bertautan dengan awan, warna kuning mengingatkan pada bulan, warna mera pada matahari dan bunga mawar, warna hitam pada batu.

Tekstur atau barik adalah nilai raba suatu permukaan, secara qualisign tekstur memperlihatkan sifat keras, halus, lunak, kasar atau licin. Sebagai tanda ikon, barik keras mengingatkan pada tekstur batu, barik halus dapat diasosiasikan pada kapas, barik lunak bertautan ingatan pada helai bunga dan daun muda, barik kasar berkaitan dengan ingatan pada kulit kayu dan pasir, barik licin mengingatkan pada lumut.

Berdasarkan uraian di atas, karya-karya yang dibuat dengan kertas ini merupakan tanda yang dapat dibaca sebagai berikut : Kertas yang selama ini dikenal sebagai bahan atau alas untuk mengekspresikan seni di atas permukaannya (karya seni grafis cetak dan gambar), fungsinya ingin diubah. Kertas tersebut bukan untuk menumpahkan ekspresi di atas permukaannya melalui pena, kuas, pinsil dan lain-lain, tetapi kertas itu sendiri ingin dihadirkan secara utuh denga hasil akhir dalam dirinya sebagai media yang telah mengandung nilai-nilai seni (paper art). (lihat Bahari, 1993 ; 1995)

Secara visual, bentuk-bentuk atau sosok gumpal yang dihadirkan dalam karya adalah bentuk-bentuk yang bertekstur, bergelombang dan timbul seperti relief. Hal ini melawan realitas atau pengalaman sehari-hari di mana kertas dalam bentuk lembaran-lembaran adalah daftar sehingga dapat dipergunakan sebagai alas menulis, menggambar dan mencetak. Dalam ilmu semiotik hal ini dapat dikategorikan sinsign (singular sign).

Unsur garis pada karya kertas merupakan qualisign, garis vertikal dan horisontal yang bersilang dalam karya menandakan kekokohan , kestabilan, kekuatan dan ketenangan. Hal ini dimaksudkan sebagai unsur kontras untuk mengimbangi sifat kacau dari tekstur, sehingga akan saling menonjolkan. persilangan garis tidak ditempatkan tepat di tengah-tengah bidang karya (porosnya), untuk menghindari kesan formil atau resmi dapat menghadirkan masalah seperti memberikan perbandingan (proporsi) bidang-bidang sisi atas dan bawahnya, di sisi kiri dan kanannya. pembagian tersebut, menimbulkan gaya berat yang berbeda, mengakibatkan (munculnya) kesan dinamis pada karya (dan sekaligus harmonis). Selain itu, kesan dinamis diperkuat dengan adanya garis diagonal pada daerah pemusatan titik persimpangan hasil dari penempatan bidang kertas yang lain di atas permukaan kertas pertama, masalah memperkuat tersebut dapat digategorikan sebagai redundance. Unsur warna kertas merupakan qualisign, warna-warna yang digunakan diperoleh secara alami untuk membuat kertas, yaitu warna putih memperlihatkan sesuatu yang terang, ringan dan netral, warna kuning gading menunjukkan kelembutan dan kehangatan, nada warna kuning kecoklat-coklatan menandakan kerapuhan, kuno dan usang. Unsur tekstur secara qualisign memperlihatkan ketidak beraturan, kasar, (tetapi juga lunak dan lembut).

Elemen-elemen pada karya, seperti serat- serat yang panjang dan pinggiran kertas merupakan unsur garis, garis dapat menjadi aktif seakan-akan merupakan kekuatan yang bergerak dan garis dapat pula tak aktif seperti pada batas semu antara dua sosok gumpal atau ruang, antara warna dengan warna.

Garis vertikal dan horisontal pada pinggiran kertas yang dibuat lurus dimaksudkan untuk menghadirkan unsur yang teratur supaya mengimbangi sifat kacau dari tekstur sebagai unsur kontras, sehingga akan saling menonjolkan. Selain itu, kehadiran garis tersebut akan mengintegrasikan bagian yang belum beraturan dalam bidang karya.

Warna-warna yang dipergunakan adalah warna-warna yang cenderung diperoleh secara alami dari warna-warna bahan mentah pokok untuk membuat kertas, yakni warna putih, krem, nada warna kuning kecoklat-coklatan dan lain-lain, secara qualisign memberikan kesan netral dan lembut, supaya mengimbangi sifat kacau dari tekstur sebagai unsur kontras, sehingga akan saling menonjolkan.

~ Sumber Tulisan ~


3 thoughts on “Ilmu Semiotika

  1. @ adit-nya niez :

    BSI mane ade jurusan se-spesifik ntu Dit…

    di BSI ntu paket komplit.

    gW aje dapet smua, tp semuanya serba nanggung.

    Sdikit – dikit dapet…
    Sdikit – dikit dapet…
    Dapet ko sedikit – sedikit… ???

    hihihihi…😆

Komentar ditutup.