Partai Jilbab

Oh ibu... sungguh engkau sangat amat Bahagia mendapat selembar Jilbab yang seolah-olah engkau melupakan anak Mu ini punya pilihan sendiri, punya kemauan sendiri, punya banyak-banyak keinginan, banyak-banyak harapan. Harapan dari orang-orang yang seolah-olah mampu dan memang Harus mampu menepati Janji-nya.
Oh ibu... sungguh engkau sangat amat Bahagia mendapat selembar Jilbab yang seolah-olah engkau melupakan anak Mu ini punya pilihan sendiri, punya kemauan sendiri, punya banyak-banyak keinginan, banyak-banyak harapan. Harapan dari orang-orang yang seolah-olah mampu dan memang Harus mampu menepati Janji-nya.

Oh engkau berwarna warni yang sengaja ingin ditempel nutupin jalan-jalan, pohon-pohon, tembok-tembok, baju-baju, bendera-bendera, mobil dan motor-motor. Buat tembok rumah ibu, itu ibu sayah, ngomel-ngomel sambil terus bawel-bawel yang bikin anak tetangga sebelah rewel-rewel.

Oh itu disebut lagi pawai, musim kampanye, musim banyak partai, musim caleg narcis, musim bagi sembako, musim cari perhatian, musim obral janji juga obral baju, musim pada mikir, musim adu strategi, adu cakep, adu kaya, adu terkenal, dan masih banyak adu-adu lainnya yang enggan sayah jabarkan.

Kemaren waktu saat lagi musim-musimnya kampanye di daerah rumah, rumah ibu sayah, mungkin dirumah ibu kamu juga bahkan dirumah ibu-ibu diseluruh Indonesia yang sayah bilang tercintah. Ada caleg suami dan istri yang mencari perhatian dengan target ibu-ibu pengajian. Karena ibu sayah terdaftar meskipun tanpa daftar berada didalam kumpulan ibu-ibu pengajian. Meski tanpa terpaksa ikut duduk, ikut dengerin, namun dipaksa ikut perhatiin yang minta diperhatiin. Yaitu kedua caleg, dari partai “RAHASIA” sahut ibu sayah jika ada orang bertanya.

Namun ketika dirumah, yaitu rumah ibu sayah. Setiap ada siapa aja dirumah yang kadang-kadang termasuk sayah selalu di selodorin kalender gantung yang bergambar dua caleg tersebut sambil melafalkan nomor urut si caleg. Oh engkau caleg yang dimaksud ibu sayah sudah sangat berhasil mempengaruhi ibu sayah yang tidak tak tau apa-apa yang engkau sebenarnya tuju. Sungguh cerdik sekali bidikkan mu wahai caleg. Hanya dengan sebuah jilbab dan kalender gantung, engkau mengarahkan atau tepatnya menyuruh oh ibu-ibu pengajian yang memang niat mengaji saat itu termasuk ibu sayah harus merasa balas budi dan merasa perlu mendukung ambisi engkau yang banyak, banyak sekali, yang tidak banyak mereka tahu, tahu apa yang sebenarnya engkau mau.